SETIAP TAHUN INDONESIA HARUS IMPORT GULA
Jakarta, Posline.co
Gula Indonesia kita produksinya dibandingkan dengan konsumsinya masih jauh. Jadi kita setiap tahun masih harus import gula sedangkan produksi dalam negeri masih kurang.
Masalahnya karena konsumsinya selalu naik karena jumlah penduduk naik luar biasa. Sementara untuk membangun pabrik gula yang baru itu biayanya besar sekali. Hal ini diungkapkan Sekretaris Eksekutive Asosiasi Gula Indonesia Dwi Purnomo kepada Posline.co baru-baru ini di Jakarta, Selasa (30/7).
Menurut Sekretaris Exsekutive Asosiasi Gula Indonesia Dwi Purnomo, jadi kita itu masih mengandalkan pabrik-pabrik gula yang ada saja.
Sambungnya, kalau toh ada tambahan paling-paling nggak mesti setahun sekali ada pabrik gula baru. Pabrik gula dibutuhkan iya, tambahnya, karena gula itu kan tidak hanya sekedar dikonsumsi diminum atau dimakan langsung.
Tambahnya lagi, kalau minum, minuman apa Teh Botol pakai gula, Coca Cola pakai gula, semuanya pakai gula biskuit juga pakai gula macam-macam semuanya, tutur Dwi.
Diterangkan Dwi Purnomo, pabrik gula kita kapasitasnya tidak terlalu besar kapasitasnya masih kecil-kecil kebanyakan dipulau Jawa gitu nyah.
Tanaman tebunya juga tidak banyak kalau dibandingkan dengan tanaman yang dikebun seperti padi. Jawa kan lebih menguntungkan itu lebih bagus tanaman pangan yang lain karena kebutuhan padi besar kita masih banyak. Kita kadang-kadang import beras juga.
Sebetulnya kata Dwi, sudah banyak petani gula cuma untuk mencukupi total kebutuhan itu belum banyak belum cukup.
Sambungnya, kebutuhan kita sekitar termasuk gula itu sekitar 7.000.000 ton. Total semua 7 juta ton setahun. Kita produksi gula sekitar 2.2 juta ton. Untuk import gulanya saja sekitar 5 juta ton, tambahnya. (Doli/R I – EMI/Posline.co)
